BOLA
DI BALIK BULAN
BOLA DI BALIK BULAN
(Trilogi
Catatan Sepak Bola Sindhunata)
Sindhunata
Mengapa
anak-anak Belanda panjang kupingnya? Jawab: Karena orangtua mereka
sering menjewer tinggi-tinggi kuping mereka sambil berkata :
“Lihatlah, di seberang sana tinggal tetangga kita yang juara dunia
(Jerman)”.
Anekdot
di atas adalah salah satu cara Sindhunata dalam menggambarkan
permusuhan Jerman
dan Belanda di dunia
sepakbola. Masih banyak
metafor serta anekdot lain yang sangat brilian digunakan oleh
Sindhunata untuk menyulap dunia sepakbola yang terlihat monoton
menjadi penuh warna dan cerita. Lihatlah bagaimana ia menggambarkan
kemenangan Denmark di Piala Eropa 1992 sebagai Dongeng Putri Salju,
yang diciptakan oleh pengarang kebanggaan mereka, H.C. Andersen.
Atau saat ia menyebut tim nasional Jerman di bawah asuhan Berti
Vogts (1992-1998) bukan lagi Mercedes yang elegan, melainkan VW yang
bertenaga kuda.
“Bola
di Balik Bulan” adalah satu
dari trilogi Catatan Sepakbola
Sindhunata yang terdiri dari kumpulan catatan sepakbola yang ia tulis
di harian Kompas. Dua seri lainnya berjudul “Air Mata
Bulan” dan “Bola-Bola Nasib”. Trilogi
ini mengambil setting
dari tahun 1988 (Piala Eropa) hingga tahun 2000 (Final Liga
Champion). Berbagai permasalahan sepakbola, baik nasional maupun
internasional, diangkat dengan sangat cerdas dan dibahas dengan
sangat mendetail. Mulai dari kejadian aktual di lapangan hijau,
perang urat syaraf yang dilancarkan sebelum pertandingan, hingga
masalah-masalah kecil seperti kerinduan para pemain akan kehidupan
yang santai, problematika dalam menghadapi larangan seks selama
turnamen, hingga impian-impian masa kecil kecil superstar sepakbola.
Klimaks dari buku ini adalah kritik yang dilancarkan oleh Sindhunata
kepada Presiden Indonesia saat itu, Gus Dur, dengan mengibaratkan
kabinet Indonesia sebagai sebuah tim sepakbola. Menariknya, Gus Dur
pun menjawab kritik Sindhunata lewat sebuah artikel sepakbola.
Dengan
gaya bercerita Sindhunata yang sangat “membumi”, pembaca tak
hanya akan mendapatkan data teknis mengenai peristiwa sepak bola yang
berlangsung di masa lalu, melainkan juga sisi humanisme yang
membangun cerita dari serangkaian kejadian di lapangan hijau. Buku
ini cocok dibaca oleh para penggemar sepakbola sebagai persiapan
menuju Euro 2008, untuk kembali menengok ke belakang dan melihat
serta membayangkan akankah kejaiban di tahun-tahun silam kembali
terulang di Euro 2008 ini. Namun, bagi kalangan yang tidak menyukai
sepakbola, buku karya Sindhunata ini juga perlu dibaca untuk
mendapatkan gambaran tentang kehidupan di balik dunia yang menuntut
kerja keras dan pengorbanan.
Resensi lain tentang Bola di Balik Bulan