Pertama kali aku menemukan buku ini di sebuah perpustakaan salah satu musholla kecil di kota Bontang, Kaltim. Saat pertama membaca judulnya keningku sudah berkerut. Judul yang aneh menurutku. Tetapi karena penasaran aku pun membacanya. Dan ternyata isinya sangat menarik.
Dalam buku karangan A.A. Navis tersebut terdapat sepuluh cerita pendek . Tetapi salah satu ceritanya yang cukup fenomenal dan kontroversial menurutku adalah cerpen yang berjudul “Robohnya Surau Kami”. Judul yang sama dengan bukunya.
Cerpen tersebut bercerita tentang seorang kakek tua yang sangat kecewa dan bersedih hati setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi. Cerita itu adalah tentang percakapan Tuhan dengan seorang manusia yang bernama Haji Saleh. Percakapan tersebut terjadi di alam akhirat, tempat dimana Tuhan memeriksa dan mengadili manusia sesudah mereka meninggal. Haji Saleh sangat meyakini bahwa dirinya akan dimasukkan ke dalam surga. Namun ternyata Tuhan mengirimnya ke neraka, sangat bertentangan dari apa yang Ia harapkan. Haji Saleh sangat kecewa menerima kenyataan itu. Terlebih lagi kala ia mendapati teman-teman semasa hidupnya tengah merintih kesakitan di dalam neraka, ia sangat terkejut dan merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Haji Saleh tidak habis pikir karena semua orang yang dilihatnya di situ adalah mereka yang semasa hidup di dunia tak kurang sedikitpun ibadahnya kepada Tuhan daripada dirinya. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk melakukan protes atas keputusan Tuhan. Dan inilah jawaban Tuhan:
“Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu tidak lain memuji-muji dan menyembahku saja.”
Semua menjadi pucat pasi, dan tak dapat berkata apa-apa lagi. Bertanyalah haji Saleh pada malaikat yang menggiring mereka.
“Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’
“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.”
Sang pengarang sepertinya ingin mengingatkan kita untuk tidak cepat puas dalam beribadah kepada Tuhan. Kita rajin beribadah tapi kita sendiri tidak tahu makna ibadah itu sendiri. Kebanyakan dari kita beribadah karena takut kelak ketika mati kita akan masuk neraka. Hingga kita egois, kita hanya memikirkan diri kita sendiri, ya diri kita sendiri saja. Kita mencari pahala dan keselamatan hanya untuk diri kita sendiri. Betapa egoisnya kita tanpa ingat kepada anak cucu dan keturunan kita bahkan orang lain. Kita hanya sibuk beribadah untuk diri kita sendiri. Semata mata karena kita takut masuk neraka. Kita tidak iklas melakukannya. Lupa kah kita bahwa belajar dan bekerja juga termasuk ibadah? Berbuat baik terhadap makhluk hidup di dunia juga ibadah. Bahkan senyum kepada orang lain juga ibadah.