Pulping the South: Industrial Tree Plantations in the World Paper Economy
Sebelum membaca buku di tangan anda, ada baiknya menjenguk fakta-fakta di balik perjalanan secarik
kertas yang kemudian menjadi lembaran-lembaran buku.Industrialisasi dan akumulasi modal telah mengubah salah satu temuan terpenting bagi peradapan manusia, kertas, menjadi alasan utama untuk merusak
hutan tropis. Awalnya kertas dibuat
dengan beragam bahan baku yang mengandung selulosa. Mulai dari bambu, kayu, rotan, jerami, dan lain-lain.Pada gilirannya, sifat haus akan kertas berujung pada penyeragaman bahan baku kertas: kayu. Hutan-hutan alam yang heterogen diubah menjadi hutan dengan tanaman sejenis (monokultur) yang disebut dengan Hutan Tanaman
Industri (industrial trees plantation). Sekilas hutan tanaman industri, sama saja, penuh dengan pohon. Tapi, sesungguhnya berbeda sama sekali. Hutan alam sangatlah kompleks. Ia memiliki sistem regenerasi tersendiri, ia juga mengatur kesuburan tanah, konservasi air, mengatur iklim mikro, serta memiliki aneka ragam flora dan fauna yang saling berhubungan. Sementara hutan tanaman industri, pada satu sisi hanyalah pembiakan sekelompok pohon untuk kemudian ditebang. Tak lebih dari sebuah sistem yang amat sederhana, dengan sedikit sekali jenis spesies di dalamnya dan hanya memberikan hasil yang sedikit pula jenisnya, kayu, minyak, atau cuma buah.Hutan monokultur inilah yang kemudian berkembang dalam era industrialisasi kertas. Ia menjelma sebagai sebuah jalan imperialisme baru, imperialisme perhutanan (plantation imperialism)Ada banyak yang diceritakan dalam buku setebal 208 halaman ini. Tapi sebagaimana disebutkan dalam pengantarnya, buku ini bukanlah sebuah "alat netral"... Kutipan: "This book, too, is not a ''neutral tool''. (No such tools exist.) Unlike most forestry science and mainstream economics, however, it strives to be self-aware and straightforward about its origins, orientation, and audience. Growing out of a widespread concern over the expansion of pulpwood plantations in the South, it attempts to organize the information and analyses it draws on in a way which will be of practical interest to those who are alarmed at plantations'' deleterious and antidemocratic effects and who are seeking alternatives."Maka di dalam buku ini kita akan menemukan banyak sekali kritik (dan seruan protes) terhadap industri
pulp dan kertas seturut dengan imperialisme perhutanan. Dalam bab 4, penulis buku ini merinci banyak sekali dampak negatif industri pulp dan kertas terhadap sosial dan
lingkungan hidup (Social and Environmental Effects), sebut saja di antaranya: ketidakadilan, dampak terhadap air, dampak pada keanekaragaman hayati (biodiversity), dampak pada kesuburan tanah, polusi industri, serta masih banyak lagi ragam dampak sosial dan lingkungan hidup.Di buku ini dipaparkan pula para aktor di belakang layar sektor ini. Selain perusahaan pulp dan kertas, para pemain lain yakni konsultan, pemasok teknologi, Asosiasi industri, Agensi bilateral, Penanaman modal oleh negara, lembaga kredit ekspor (export credit agencies), pemerintah, lembaga riset, bahkan Lembaga Swadaya Masyarakat. Yang terakhir ini, entah karena ketidaktahuannya atau memang sengaja "melacurkan" dirinya untuk mendukung perusahaan pulp dan kertas dalam aksi penghancuran hutan alam dan pemiskinan masyarakat lokal.Meski buku ini sarat dengan kritik, tapi kedua penulis buku ini tidak sekadar ''omong doang''. Mereka juga membubuhkan catatan, saran, solusi, untuk menyelamatkan lingkungan di masa yang akan datang.
More reviews about the Pulping the South: Industrial Tree Plantations in the World Paper Economy