Search
×

Sign up

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Sign In!
×

Sign In

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Sign up!
×

Sign up

Use your Facebook account for quick registration

OR

Sign In

Sign in using your Facebook account

Shvoong Home>Entertainment>Movies>Shutter Island: Play Your in(Sanity) Around Review

Shutter Island: Play Your in(Sanity) Around

Movie Review   by:theguardianofdeath    
ª
 
Jangan pernah melewatkan adegan pertama film ini, ketika Teddy Daniel (Leonardo DiCaprio) memuntahkan isi perutnya seperti seorang pesakitan. Begitu pula dengan percakapan pertama Teddy dengan rekan barunya Chuck Aule. Karena di sinilah Martin Scorses membangun kembali lingkaran kegilaan yang dengan sukses dirintis penulisnya Dennis Lehane.

Kedua Marshall Amerika ini ditugaskan untuk mencari salah satu pasien paling berbahaya yang dikabarkan melarikan diri dari rumah sakit, Rachel Solando. Setelah melihat langsung kondisi kamar dan menanyai petugas yang terakhir kali menangani Rachel, Teddy tak mendapatkan satu petunjuk pun kecuali secarik kertas bertuliskan angka '67'. Angka inilah yang kemudian dijadikan Teddy sebagai referensi utama dalam pencariannya.

Teddy pun meminta keterangan dari pimpinan rumah sakit, Dr. John Cawley. Karena tak puas dengan keterangan yang diberikan ia mendesak untuk menginterogasi teman-teman Rachel. Anehnya, semua pasien memberikan jawaban yang hampir seragam tentang Rachel. Bahkan, seorang wanita dengan penuh ketakutan menyarankan Teddy untuk segera lari dan meninggalkan tempat tersebut.

Teddy pun seperti dibangunkan dari tidur panjangnya. Ia tiba-tiba sadar bahwa selain untuk mencari pelarian tersebut, ia juga sedang mengejar seorang laki-laki yang diyakininya bertanggung jawab atas kebakaran yang telah membunuh isterinya. Ia juga yakin bahwa aktivitas di rumah sakit tersebut berkaitan dengan sebuah gerakan komunis di Amerika. Teddy pun mengungkapkan seluruh kecurigaan dan rencananya kepada Chuck. Tak peduli dengan pertanyaan partnernya yang meragukan aksi saling mengejar yang 'kebetulan' itu, Teddy mengajak Chuck untuk menyelidiki tempat tersebut.

Sayang, pencarian mereka tak berhasil. Entah bagaimana, kepergian mereka diketahui oleh petugas rumah sakit. Keduanya ditemukan bersembunyi di dalam sebuah rumah tua di sekitar pemakaman. Namun, Teddy yang terlanjur disulut dendam tak menyerah. Kerusakan yang terjadi akibat badai malam itu pun seperti memberikannya kesempatan kedua untuk mengungkap kebenararan. Bersama Chuck ia berhasil masuk ke bangsal C. Di sanalah ia bertemu dengan George Noyce. Lelaki tersebut menyalahkan Teddy karena telah membuat hidupnya menderita dan menyebabkan hidup Laeddis berakhir menyedihkan.

Teddy terpuruk. Berita tentang kepulangan Rachel secara misterius telah membuat emosinya semakin labil. Ia mulai meragukan kesetiaan Chuck. Meski demikian ia tetap mengajaknya untuk menggeledah aktivitas di mercusuar, tempat yang selalu dijaga ketat oleh petugas. Chuck yang biasa mengikuti rencana Teddy kali ini menolak. Ia bersikeras untuk menjelaskan arti angka '67' yang selama ini dipertanyakan Teddy. Sekali lagi, Teddy tak menghiraukan. Ia pergi seorang diri. Karena tak berhasil menemukan jalan masuk, ia kembali dan menemukan Chuck tak lagi di sana. Hanya sebatang rokok yang masih menyala didapatinya terletak di bibir tebing.

Khawatir bahwa seseorang telah menjatuhkan temannya, Teddy kembali menuruni tebing. Namun, ia tak menemukan apa-apa kecuali gerombolan tikus yang menuntunnya ke sebuah gua. Di gua itu, Teddy bertemu dengan perempuan yang mengaku sebagai dokter yang mengetahui segala kejahatan yang dilakukan di rumah sakit tersebut. Ia memberi tahu Teddy bahwa ia adalah salah satu korban yang sedang dicari. Pengalaman buruk di masa lalu adalah alasan kuat untuk mengklaim bahwa ia telah mengalami gangguan kejiwaan. Ia juga mengingatkan, bahwa Teddy tak punya siapa-siapa di tempat itu.

Untuk kesekian kalinya Teddy ditemukan dan dibawa kembali ke rumah sakit. Kejadian yang dialaminya telah membuatnya semakin bingung dan mulai meragukan apa yang selama ini diyakininya. Cara dokter, perawat bahkan pasien memandangnya semakin membuatnya merasa aneh. Teddy yang tak juga melihat sahabatnya yang hilang pun semakin sering jatuh. Bahkan, obat yang diberikan kepadanya justru melumpuhkan kesadarannya. Namun, di detik-detik terakhir, Teddy yang terus dihantui isteri dan seorang gadis kecil kembali bangkit. Ia berlari ke mercusuar untuk menyelamatkan sahabatnya. Namun, di ujung pencariannya, ia tak menemukan seorang pun kecuali Cawley yang menyambutnya dengan penuh persiapan. Tak sulit baginya untuk mengguncang jiwa Teddy. Bersama Chuck yang tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai psikiater yang menanganinya selama dua tahun terakhir, Cawley berhasil meyakinkan Teddy bahwa ia adalah Andrew Laeddis . Keduanya bahkan berhasil meyakinkan Teddy bahwa cerita tentang Rachel Solando sengaja dikarangnya untuk menyangkal rasa bersalah karena telah membunuh isteri yang telah menenggelamkan ketiga anak mereka di danau.

Andrew akhirnya dirawat di rumah sakit. Sekejap saja ia sudah menunjukkan perubahan yang disebut Cawley sebagai satu 'kemajuan.' Namun, pada keesokan harinya, ia kembali menjadi Teddy yang dengan yakin memberi tahu Chuck telah terjadi kejahatan di rumah sakit itu dan bersikeras untuk mengungkapnya. Chuck yang sadar bahwa usahanya belum berhasil kemudian memberi sinyal kepada beberapa orang yang mengawasinya. Sembari meyakinkan Teddy bahwa mereka pasti akan berhasil mengungkap kebenaran, Chuck mempersilakan Teddy untuk mengikuti para dokter yang telah siap dengan sebuah benda tajam di balik handuk.

Benarkah seorang pelaku kriminal benar-benar pernah melarikan diri dari rumah sakit tersebut? Atau skenario itu sengaja dibuat untuk mendapatkan Teddy kembali. Lalu, siapakah Teddy? Benarkah ia pernah tinggal di rumah sakit itu? Apakah benar bahwa ia telah mengalami gangguan kejiwaan setelah kematian isternya? Apa pula hubungannya dengan Noyce dan Laeddis? Di sinilah penonton bisa menyaksikan keindahan buah tangan Morsese dalam merangkai cerita.

Selamat menonton!
Published: March 25, 2010   
Please Rate this Review : 1 2 3 4 5
Comment Translate Send Link Print

More Summaries & Reviews by theguardianofdeath

More
X

.