Bertani yang ramah lingkungan sudah dikaji oleh para ahli ekologi sejak
tahun 1959, saat dampak negatif pemakaian bahan kimia secara
berlebihan, khususnya pestisida di sektor
pertanian mulai dirasakan
sebagai akibat permintaan yang
akan bahan pangan yang meningkat pesat
setelah perang dunia II. Input bahan kimia secara berlebihan untuk
mengejar produktivitas, mengendalikan hama, gulma, serta penyakit,
ternyata di kemudian hari terbukti mencemari lingkungan, dan berbahaya
bukan hanya bagi konsumen, akan tetapi bagi
petani sendiri. Untuk
itulah diperlukan suatu terobosan yang
bisa menjembatani antara
tuntutan produksi sebagai akibat jumlah penduduk yang meningkat,
dengan keselarasan dan keseimbangan kondisi lingkungan. Bertani Ramah
Lingkungan
Sektor pertanian walaupun sering dikatakan sebagai “green industry”,
akan tetapi sebenarnya andilnya terhadap pemanasan global juga cukup
signifikan, yaitu sekitar 20%. Sebagian besar berasal dari pemakaian
pupuk, khususnya Urea, yang berlebihan. Untuk itulah alternatif lain
dari cara-cara yang saat
ini dilakukan, atau minimal mengkombinasikan
dengan cara lain yang lebih efektif dan efisien diperlukan. Untuk dapat
dikatakan sebagai berkelanjutan maka paling
tidak ada empat kata kunci,
yaitu : (1) Ecologically sound. (2) Profitable. (3) Socially just. (4)
Humane. Apa yang dilakukan oleh sekelompok petani di Jepang dalam
memelopori pengurangan penggunaan bahan kimia dalam mengelola tanaman
padi, akan memberi gambaran yang lebih jelas pada apa yang dimaksud
dengan sustainable farming.
Hal-hal berikut ini harus sebaiknya untuk menciptakan pertanian yang
berkelanjutan:
Penggunaan Pupuk. Di Jepang, Eropa Barat, dan juga Amerika seiring
dengan tuntutan konsumen akan produk yang ber “eco-label” ada tren
untuk memanfaatkan lagi kompos sebagai pupuk, sebagai alternatif
ataupun komplementer dari pupuk kimiawi buatan pabrik. Kompos mempunyai
banyak kelebihan dibandingkan dengan pupuk buatan pabrik, selain tidak
merusak sifat-sifat tanah dan malah justru memperbaiki sifat dan
struktur tanah, juga tidak menyebabkan “greenhouse effect”
yang merusak lapisan ozon. Selain kompos bisa juga digunakan Azolla
spp. yang bersimbiosis dengan bakteri sehingga bisa memanfaatkan
Nitrogen langsung dari udara, untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Pengendalian Hama.
Di Jepang, dibudidayakan bebek Aigamo sebagai media pengendali hama,
dan kotorannya dipakai sebagai pupuk di pertanaman padi. Walau pada
awalnya produktivitas menurun, akan tetapi setelah beberapa kali musim
tanam, produktivitasnya tidak berbeda dengan cara konvensional. Di
Indonesia sendiri sudah lazim bila penggembala bebek membiarkan
bebeknya berada di sawah sampai sore hari. Perlu pengkajian apakah
dengan keberadaan bebek tersebut berpengaruh terhadap kondisi tanaman
dan populasi hama. Selain dengan bebek ini, bisa juga metode ini
dikombinasikan dengan rekayasa genetik yang akan menghasilkan tanaman
yang resisten terhadap penyakit dan hama, juga dengan menggunakan
parasitoid, semacam kumbang kecil yang hidup di dalam tubuh hama
tanaman.
Kendala Dalam Aplikasi
Pengenalan suatu metode atau cara baru tidaklah selalu memperoleh
respon yang memuaskan tanpa adanya komunikasi yang baik antara petani
sebagai pemilik dan sekaligus pengolah lahan. Antisipasi akan adanya
beberapa kendala yang mungkin terjadi sangat diperlukan, sehingga
pengenalan teknologi tersebut akan mengena sasaran dengan baik.
Beberapa hal yang menjadi kendala tersebut adalah:
Persepsi Dari Petani. Hal ini merupakan halangan yang paling serius,
berkaitan dengan sosialisasi, dan tingkat pendidikan petani. Inovasi
baru tidak akan dicoba oleh petani, bila mereka belum yakin benar akan
efektivitas, dan keuntungan ekonomisnya. Petani akan mengikuti apabila
sudah melihat hasil nyata. Maka untuk itu perlu adanya sosialisasi
melalui media massa yang menjangkau petani yang dibarengi dengan
plot-plot percobaan di lahan milik petani sendiri.
Kepraktisan. Cara bertani seperti yang diuraikan diatas memang kurang
praktis, bila dibandingkan dengan cara konvensional. Selain itu juga
lebih memerlukan tenaga dan waktu, seperti misalnya dalam
mengaplikasikan kompos. Selayaknyalah hal ini menjadi tantangan ahli
mikrobiologi untuk mendapatkan mikroba yang bisa mengurai kompos dalam
waktu yang singkat bisa siap pakai.
Kebijakan. Adanya paket kebijakan yang sifatnya top down atau
“crash-crash program “ yang lain akan menyebabkan tidak efisien pada
penggunaannya sehingga berakibat pada kredit macet. Apabila petani bisa
memiliki Koperasi atau perkumpulan mandiri yang kokoh, maka pengajuan
kredit dan kebutuhan yang lainnya benar-benar akan sesuai dengan
kebutuhan mereka. Untuk menuju ke tahap ini, maka pemberdayaan dan
peningkatan kemampuan petani menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa
dihindarkan.
Kecilnya Rata-Rata Kepemilikan Lahan Petani di Indonesia. Hal ini
membuat teknologi apapun yang dicobakan hasilnya kurang optimal dan
juga karena petani dalam menggarap lahannya tidak “all-out” , sehingga
bertani hanya sebagai pekerjaan sampingan, dimana setelah selesai masa
tanam, areal pertanian ditinggalkan untuk bekerja dalam sektor lain,
terutama di kota besar.
PROSES PEMBELAJARAN PETANI.
Proses pemberdayaan lewat pembelajaran petani merupakan kata kunci bagi
suksesnya program pertanian, sekaligus merupakan pekerjaan rumah
mengingat tingkat pendidikan petani yang relatif rendah. Terlebih lagi
di era dimana informasi menjadi sesuatu yang mutlak bagi pengambilan
keputusan, maupun untuk penetrasi pasar, tidak terkecuali bagi petani
ataupun kelompok tani. Untuk mengatasinya maka bisa dimanfaatkan sarana
yang saat ini sudah dimiliki oleh pemerintah, seperti Penggunaan Balai
Penyuluhan Pertanian (BPP),
Kelompok Tani, dan
Memanfaatkan Infra Struktur Pemerintahan.
Petani dituntut untuk bisa kreatif dengan mengkombinasikan antara
produk mutakhir dengan sarana dan prasarana yang ada di sekitarnya.
Sehingga selain petani bisa memperoleh hasil dengan tidak jauh berbeda
dengan apa yang sudah diperoleh selama ini, petani juga menjadi lebih
mandiri dengan mengurangi ketergantungan akan produk dari luar.
Pertanian yang dikelola secara berkelanjutan dengan berbagai
penyempurnaan diharapkan akan bisa menjembatani antara tuntutan
produksi dan keuntungan petani di satu sisi, dengan keharusan untuk
menjaga lingkungan.
More abstracts about the Bertani Secara Berkelanjutan