Berbagai proyek
konservasi hutan telah dilaksanakan seiring dengan
kegiatan eksploitasi hutan besar-besaran di negeri ini. Sudah
tidak terhitung besarnya dana yang telah diinvestasikan untuk gerakan pelestarian
hutan ini, baik yang bersumber dari anggaran pemerintah maupun yang berasal
dari berbagai negara donor. Sudah tidak terhitung pula banyaknya lembaga
konservasi di negeri
ini yang mengabdikan diri di bidang konservasi alam. Namun
berhasilkah kita menyelematkan hutan dari kehancuran. Jawabnya jelas belum
berhasil! Kerusakan hutan terus berlangsung, bahkan semakin tidak terkontrol.
Data terakhir Selama ini sebagian besar upaya pelestarian hutan baik yang
dilaksanakan oleh pemerintah maupun lembaga konservasi (LSM) dilaksanakan dalam
bentuk keproyekan.
Karakter utama proyek adalah sifatnya yang sementara
(temporer), aturan-aturan yang terkadang kaku dan indikator ketercapaian yang
bersifat monumental dan sering tidak realistis untuk dicapai dalam waktu yang
pendek. Hal ini terjadi, karena proposal proyek
harus ditulis semenarik
mungkin, untuk menggaet minat lembaga donor. Kondisi di atas, akhirnya sering
menyulitkan implementasi proyek. Pelaksana proyek sering dipaksa untuk melakukan
mission impossible. Kondisi ini
sering membuat pelaksana proyek hanya berorientasi pada hasil, tanpa
memperhatikan proses. Dampaknya, berbagai gerakan konservasi hanya berlangsung
pada saat proyek sedang berjalan. Proyek konservasi hutan juga ditengarai
justru mendidik
masyarakat bermental keproyekan, mengingat jiwa kemandirian masyarakat
justru tidak terbangun dengan adanya proyek. Misalnya, apabila sebelum mengenal
proyek, mereka biasa menanam pohon di kebunnya secara swadaya, kini untuk
kegiatan yang sama harus menunggu kucuran dana proyek. Padahal sebaik apapun
proposal proyek, jelas tidak akan menjamin tujuan yang diinginkan (development dan specific objectives),
tanpa proses adaptasi dan penyesuaian dengan kondisi yang dialami pada saat
pelaksanaan proyek.
Konservasi adalah membuat
masyarakat berdaya.
Pemahaman kognitif masyarakat akan konservasi tidak selalu
diikuti dengan kesadaran. Sedangkan kesadaran itu sendiri belum tentu
termanifestasi pada pola tindak dan perilaku keseharian. Hal ini dikarenakan masyarakat
menghadapi dilema pelik antara konservasi dengan kebutuhan hidup hari ini. Dengan
terbatasnya pilihan, masyarakat akan memilih kebutuhan hidup daripada konservasi.
Mengingat kebutuhan hidup harus dipenuhi hari ini, sedangkan dampak dari pengabaian
konservasi, walaupun biasanya amat dahsyat (luapan air bah, kekeringan), namun
tidak langsung dirasakan. Memahami kondisi ini, gerakan konservasi harus mampu
menciptakan kondisi pemungkin (enabling condition)
bagi masyarakat agar berdaya melakukan tindakan konservasi. Konservasi berhubungan
erat dengan aspek kesejahteraaan manusia yang hidup di sekitar kawasan yang
dikonservasi.
Upaya konservasi sumberdaya hutan tidak bisa dilepaskan dari
upaya peningkatan kondisi ekonomi masyarakat yang hidup di sekitarnya. Hutan
tidak mungkin dipertahankan kelestariannya apabila masyarakat di sekitarnya dalam
kondisi papa dan tak berdaya. Hutan hanya akan dapat dijaga kelestariannya oleh
masyarakat yang berdaya! Kerja konservasi tidak semata berupa kegiatan di dalam
hutan, namun yang tidak kalah penting saat ini adalah bagaimana membendung berbagai
ancaman kerusakan yang datang dari luar hutan. Tanpa ada kegiatan apapun didalam
hutan, proses suksesi dan pemulihan kerusakan, serta pencapaian keseimbangan ekologi
baru akan berlangsung, selama hutan tidak diganggu. Penelitian biologi
konservasi tetap diperlukan untuk memahami kepentingan suatu kawasan hutan dari
sisi keragaman hayati dan menetukan langkah konservasi yang tepat sasaran. Namun
begitu fase discovery (penelitian)
ini dilalui, tekanan kegiatan harus bergeser menuju ke aksi recovery pelestarian).
Strategi pengembangan
bisnis pedesaan
Kegiatan ilegal oleh sebagian masyarakatdi kawasan hutan
negara saat ini dilakukan karena terpaksa, yaitu karena tidak tersedianya alternatif sumber ekonomi untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya hari ini! Mereka melakukannya karena tidak berdaya
untuk mencari lapangan kerja lain yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan. Kehadiran
bisnis pedesaan sangat diperlukan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari
sumberdaya hutan ke sumberdaya pertanian dalam arti luas. Upaya pengalihan ini bukan
hal yang sederhana, mengingat menebang kayu atau memungut rotan selain telah menjadi
kebiasaan, barang yang dihasilkan juga bersifat liquid, artinya mudah diuangkan dalam waktu cepat. Sedangkan bisnis
pedesaan, apapun bentuknya dan betapapun prospektifnya, tetap memerlukan proses
dan waktu yang relatif lama hingga keuntungan siap dipetik.
Fasilitator pengembang bisnis harus mampu meyakinkan
masyarakat terhadap berbagai keuntungan dan perbaikan ekonomi masyarakat dari
bisnis yang di tawarkan. Bisnis yang ditawarkanpun harus menjajikan keuntungan
dalam jangka waktu yang relatif pendek, karena masyarakat umumnya tidak
memiliki ‘nafas yang panjang’ untuk menunggu terlalu lama. Untuk itu
fasilitator bisnis harus benar-benar berjiwa bisnis (baca: jeli melihat peluang),
harus tekun dan fokus dengan pekerjaannya. Pekerjaan macam ini menuntut pemikiran
dan strategi yang dinamis, dan tidak mungkin dilaksanakan oleh pekerja proyek
yang berprinsip sekedar telah melaksanakan pekerjaan. Bisnis pedesaan juga
harus memberikan ‘kail’ (bukan ‘ikan’), masyarakat harus dididik untuk tidak
bermental proyek dan hanya mengharapkan hibah (bantuan cuma-cuma) proyek.
Singkatnya, lembaga konservasi harus mengawal pengembangan bisnis dari proses
produksi hingga ke pemasaran hasil. Kemudian, mengingat bisnis ini dikembangkan
untuk mendorong konservasi, maka setiap bisnis yang dikembangkan harus
berdampak pada perubahan pola tindak dan perilaku yang lebih baik terhadap
kelestarian hutan.
Lembaga konservasi bersama mitra terkait harus berupaya membangun
komitmen petani untuk memastikan bahwa bisnis yang digulirkan benarbenar menjadi
alternatif penghasilan baru (artinya masyarakat berhenti merusak hutan) dan
bukan sekedar sebagai tambahan penghasilan (artinya pekerjaan semula sebagai
perusak hutan terus berjalan). Memperhatikan hal ini berbagai kegiatan
penguatan konservasi, harus dibangun secara intensif bersamaan dengan kegiatan
pengembangan bisnis. Komitmen ini selanjutnya harus dimonitor sebagai bahan
untuk melakukan rewards and punishment. Lembaga konservasi harus menjamin bahwa
produk yang dihasilkan petani akan mampu dipasarkan dengan harga yang
menguntungkan petani. Sehingga kepercayaan petani dalam pengembangan bisnis
secara mandiri akan terbangun. Akhirnya, bisnis untuk konservasi harus menjamin
terjacapainya dua sasaran secara seimbang yang bersifat sebab akibat, yaitu
membuat masyarakat berdaya baik secara moral dan finansial, dan karenanya hutan
dapat terjaga!
More abstracts about the Bisnis Untuk Konservasi: Membuat Masyarakat Berdaya Agar Hutan Terjaga.