Shvoong Home > Arts & Humanities > Rumah Kedua Summary

.

Rumah Kedua Book Summary

Author : Wahyudi
Summary by : wahyusastra
Visits : 151  words: 900   Published: June 15, 2007
Pintu nol, Sabtu sore
Jarum jam baru saja menunjuk angka 5.30. Tepat. Hari itu senja datang
sedikit cepat di Tamalanrea, menebar aroma shepia yang redup. Perintis
Kemerdekaan sedikit lenggang. Sekumpulan pemuda asik bercengkrama di
seputar pinggir danau. Ada yang asik memancing. Sisanya asik
memperbincangkan sesuatu, sambil sesekali memainkan key pad Hand Phone
masing-masing.
Daeng Kuasa, 43, menyandarkan bahu disisi tiang gazebo --tapi
sebenarnya tempat itu lebih mirip pos ronda. Sisa-sisa keringat masih
jelas terlihat menetes dari keningnya yang hitam. Rambutnya setengah
memutih --tersisa satu-dua, malah. Sepoi-sepoi angin sore itu
membuatnya sedikit terhibur. Setengah tertidur ia dibuatnya. Mungkin
jenuh, disulutnya sebatang 421 --kretek yang mirip Dji Sam Soe,
dibelinya kemarin sore seharga 2500 rupiah perbungkusnya. "Nikmat
mentong," katanya, "apalagi na ditemani secangkir kopi". Soal itu,
sampai sekarang bapak tiga anak ini masih heran, soal kenapa istrinya
melarangnya menyulut benda berasap tersebut.
Sebuah radio kecil bermerk Sunny --bentuk dan ukurannya persis batu
bata, sayup-sayup memperdengarkan sebuah dialog politik disebuah
stasiun radio lokasl. Daeng Kuasa mengeluh. Rasanya ngeh mendengar
orang pinter bicara soal itu, diputarnya channel kekanan --lagu dangdut
lebih menarik baginya dibanding mendengar kata "Amandemen" atau
"Resufle kabinet". Bekerja untuk hidup dan hidup untuk bekerja
Itulah makna hidup baginya, dan tentu saja, untuk itulah dia hidup.
Dalam hidupnya tidak ada kata "hari libur", "tanggal merah", atau "cuti
akhir pekan". "Mace na Anto kodong, sering ngeluh" akunya, "sebab naik
mi harga na minyak goreng sama beras." Daeng Kuasa juga mengeluhkan
soal kenapa dulu mahasiswa menurunkan presiden Soeharto. Ditanya soal
bencana Tsunami dan lumpur Lapindo di Sidoarjo, "Begitu mi cara na''
Tuhan kasi ingat ki," komentarnya singkat.
Sejak kapan awal mula Daeng Kuasa mulai membecak tak ada yang tahu
pasti --bahkan Daeng Kuasa sendiri lupa kapan tanggal lahirnya. "Dulu,"
ceritanya, "tidak berapa lama setelah kampus Unhas Tamalanrea berdiri,
saya sudah memang ka narik," kenangnya perihal awal mula dia melakoni
pekerjaan mbecak. Konon, dari situlah dia dijuluki dengan nama Daeng
Becak. Dan begitulah, Daeng
Kuasa tak pernah mengeluh pada nasib. Bahkan jauh sebelum ketiga
anaknya lahir --Anto, Tini dan Tono, dirinya memang sudah mulai mbecak.
"Itu sekitar tahun 1980-an," kenangnya. Tukang bersih-bersih kampus
Sekitar tiga tahun lalu Daeng Kuasa dan istrinya memang pernah jualan
di koridor Fakultas Sastra. Waktu itu hidupnya sedikit lebih tenag dari
saat ini: jam kerja teratur, ada juga THR, meski jumlahnya tak
seberapa. Sebuah lapak kecil dibangunnya di bawah tangga, tepat di
lorong FIS-VI, berbagai macam dijualnya, dari mie, kopi, aneka
gorengan, dan bermacam panganan ringan khas kaki lima. Waktu itu dia
juga merangkap Cleaning Service
alias "tukang bersih-bersih kampus". Medio 2004 tokh bisnis dengan
penghasilan tak seberapa itu akhirnya gulung tikar juga. Masalahnya
sederhana saja, "pajak" yang dikenakan pihak kampus sebagai sewa lapak
saat itu terlalu tinggi dibanding penghasilan dari jualan yang memang
tak seberapa. Dua tahun setelahnya, Daeng Kuasa juga berhenti dari
pekerjaannya sebagai "tukang sapu-sapu kampus" gara-garanya gaji yang
terlalu terlambat dibayar. "Na pernah na sampai na tiga bulan terlamba
di bayar," keluhnya. Berhenti
sejenak. Diseruputnya sisa kopi di dasar gelas. Tak cukup dua teguk.
Habis. Warnanya hitam pekat --sangat. Satu sendok gula di campur 4
sendok kopi tubruk, itu yang paling dia suka --dan dia akan sangat
marah jika komposisi itu dilanggar istrinya. "Biar segar dan semangat
kerja sepanjang hari," selorohnya.
Tono, si bungsu, dengan tangan yang belepotan oli, meraih radio kecil
disamping bapaknya. Tono tidak suka dangdut, sama seperti kretek 421.
"Katrok," ledeknya, menirukan khas host
Tukul dalam Empat Mata, acakegemarannya. Remaja 15 tahun itu
terobsesi sama Green Day. "Kapten tolo!" tambahnya. "Lagu sembarang,"
ledek bapaknya. Meskipun tidak bisa mengartikan kata "Green" pada nama
band favoritnya tersebut, remaja dengan rambut pirang tersebut sangat
suka potongan klip ketika band itu menyanyikan lagu American Idiot.
"Sering saya lia'' di MTV," bisiknya. Ditanya soal style, Tono suka
pakaian yang serba ketak. "Itu untuk baju!" katanya. Khusus untuk
celana, sukanya yang ombrang dan punya banyak kantung. Hari itu ia
mengenakan celana seperti itu, dengan 1,2,5 kantung. Dia paling anti
celana botol terbalik --seperti yang digunakan bapaknya sore itu,
calana beggy formal yang terlihat sempit di bagian bawah. Tapi dia juga
tidak suka sebaliknya --celana yang sempit di bagian atas dan sangat
lebar di bagian bawah. Celana model begitu disebutnya celana si Raja
Dangdut, Roma Irama, yang dulu dilihatnya dilayar TV dalam film "Satria
Begitar". "Celana wong ndeso," selorohnya. Sore itu Tono menggunakan
celana Levis 1/4 dengan warna pudar dan sobekan-sobekan disepanjang
lutut. Katanya itu lagi trend, sama seperti tali dompet dan ikat
pinggangnya yang berjuntaian kesana kemari. Terlihat semarak memang.
Tapi itu yang dia suka. Buta hurup
Sama seperti kedua saudaranya, Anto dan Tini, Tono juga tidak pernah
mengenyam bangku sekolah. Ngakunya berodiak Gemini dan shio ayam, tapi
pas ditanya tanggal berapa dia lahir, Tono malah cuma geleng-geleng.
Tono sering mendengar istilah Akta Kelahiran, tapi dia belu tahu apa
itu. Ketika bapaknya menjelaskan, komentarnya singkat dan polos, "Jual
tanah kah apang pake akta segala," dengan nada sedikit sarkatis. Pernah mbecak juga
Dulu, sewaktu bapaknya, Daeng Kuasa, rawat inap di RS. Wahidin,
lantaran di bacok tukang ojek, Tono pernah juga mbecak. Waktu itu
kakaknya Anto minggat gara-gara tidak jadi dikreditkan Supra Fit. "Itu sekitar bulan puasa tahun lalu," ia mengenang.Daeng
Kuasa mencoba tersenyum. Mungkin berharap nasib baik akan menghampiri
anak bungsunya itu sehingga nasibnya akan sedikit lebih baik dan tidak
perlu lagi mencari uang dengan menjadi tukang becak seperti diirnya.
Sekarang, Daeng Kuasa tentu bisa sedikit lega. Dari hail nguli selama 4
bulan di Bulukumba, Tono sudah mampu membeli sebuah air compresor dan
peralatan tambal ban dalam. sekarang ia membuka usaha itu di pintu nol,
bersamaan dengan empat mangkalnya bapakanya mbecak. Hasilnya memang
tidak seberapa, sekitar 10-20 ribu per-hari. "Tapi cukup mi buat makan
na sama kasi mama na tambah-tambah beli beras," tambah daeng Kuasa.
Tono mengaku kalau mulai 2 bulan lalau dia udah mulai menabung. Lebaran
nanti dia ingin punya jaker dengan motip look army, sendal eiger dan
baju kaos serta topi dengan motip distro. "Harga na mungkin 300
ribuang," ia mengira-ngira. Waktu itu penghasilan menabungnya selama 1
bulan habis dipergunakan makan malam di sebua food court yang sering
diiklankan di TV. Ia mengumpat, soal kenapa harga semangkuk nasi di
mall sangat mahal. "Suntala'', masa sayap na ayam sama nasi sediki harga
na 18.000?" setengah menyesal diucapkannya kata itu. Suntala'' itu
semacam umpatan. Tapi bagi anak jalanan, itu lumrah diucapkan --bahkan
dalam setiap percakapan. Dari sana Tono mulai jera makan di mall. Bukan
lantaran tidak enak, hanya saja 1 porsi itu harus dibayarnya dengan
hampir 15 jam kerja menambal ban. "Disana (pen-mall) lagi diskong. Mau
sekali ka beli itu baju kodong. Mudah-mudahan lebaran ini masih
diskong," harapnya serius. Daeng Kuasa mencibir, mungkisetidak bisa
membelikan baju tersebut. 05.21
Sebuah pete-pete 05 Cenderawasih berhenti. Daeng Kuasa waspada,
berharap seseorang akan meminta diantar entah kemana. Matanya awas.
Seorang perempuan muda turun dengan membawa 2 kantung belanjaan penuh.
"Belakang Workshop!" dipanggilnya seorang tukang ojek. Mungkin
buru-buru, da tas belanjaanna tampak penuh, bertuliskan nama sebuah
suermarket dibilangan Panakungan yang konon

More summaries about the Rumah Kedua
Rumah Kedua  by  Wahyudi    2007 
Please Rate this abstract : 1 2 3 4 5


Add your comment No comments

Comments & Reviews about Rumah Kedua Book Summary

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------