Selamat Tahun Baru 2008Matahari yang tak
terlalu bersinar terik
dan hujan
di beberapa daerah di tanah air menandai hari
terakhir di 2007 ini. Dalam beberapa jam lagi, matahari yang sama akan terbit
kembali di tahun yang berbeda.
Kita mencatat sejumlah peristiwa tragis
yang mewarnai pergantian tahun lalu dan tahun ini. Tapi bukan itu yang ingin
kami bagi saat ini. Memasuki 2008, mari kita sejenak melihat, adakah bagian yang
bisa kita bawa
sebagai bahan harapan. Adakah di antara kita telah memberikan
inspirasi? Bukan dari para pejabat, bukan dari kaum elit.
Mereka adalah orang
biasa yang telah memberikan karya luar biasa.Adalah seorang perempuan
tuna rungu bernama Rachmita
Harahap. Ia
menjadi ikon pembangkit motivasi, tidak hanya bagi kaum yang
senasib dengannya, tapi bagi banyak orang yang memiliki kesempurnaan fisik.
Dulu, ia tidak dianjurkan bersekolah di sekolah normal, tapi ia bertekad maju
seperti
anak lain dan ini dibuktikannya dengan berhasil mengambil gelar Master
of Science di ITB. Ia punya ambisi mengangkat ketertinggalan kaum tuna rungu
dengan mendirikan Yayasan Sehjira (sehat jiwa raga) di sebuah rumah kontrakan
sempit di bilangan Jakarta Selatan. Mita menjadi wanita istimewa karena memiliki
semangat luar biasa untuk maju dan ia telah membuktikan itu.Ada juga Sri Murniwati Harahap yang
berkarya nyata soal lingkungan. Ia gigih melestarikan hutan bakau, bahkan dengan
menjual harta pribadinya demi menjaga 100 hektare lahan hutan bakau. Murniwati
tidak sendiri. Seorang pemuda bernama Zamroni dikenal sebagai
penggiat lingkungan generasi muda. Lulusan Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Airlangga Surabaya ini dikenal sebagai penggiat
lingkungan yang aktif mengajak anak-anak sebagai penyelamat lingkungan. Roni,
begitu ia dipanggil, merasa tergugah menyampaikan pesan sadar lingkungan karena
alam akan diwariskan ke generasi mendatang, terutama anak-anak. Ia menjadi
bagian dari pemberdayaan masyarakat di sekitarnya untuk menjaga lingkungan,
mulai dari membuang dan mengelola sampah dengan mendaur ulang hingga isu
lingkungan lain. Juga jangan dilupakan putra Indonesia yang kembali
membuktikan kemampuannya dalam bidang teknologi. Tiga akademisi Institut
Teknologi Bandung (ITB) berhasil menemukan zat pengganti freon yang digunakan
sebagai bahan pendingin yang ramah lingkungan serta hemat listrik. Mereka adalah
Profesor Aryadi Suwono, Natanael Tandian, dan Ari Darmawan. Sebuah karya
prestasi yang harus segera dipatenkanBicara soal warisan budaya. Adakah
di antara kita yang rela peninggalan budaya kita selalu diklaim negara tetangga?
Seorang pemuda bernama
Maulana Syuhada menjawab keresahan itu. Lulusan S-2 sebuah universitas di
Jerman ini bekerja keras berkeliling Eropa selama 40 hari untuk mempromosikan
angklung sebagai seni Indonesia bersama grupnya, Muhibah Budaya. Mereka
memperkenalkan angklung sebagai kesenian asli Indonesia. Klaim Malaysia terhadap
angklung sebagai budaya asli Negeri Jiran menjadi salah satu pendorong kuat
Maulana dan rekan-rekan ngotot ke Eropa. Ketika menjadi bintang tamu di
festival bergengsi Zakopane Polandia, mereka mendapat anugerah tertinggi,
Ciupaga. Penghargaan ini seharusnya tak diberikan kepada bintang tamu melainkan
hanya peserta festival. Maulana berhasil membuktikan, dengan karya nyata, cara
menjaga warisan budaya bangsa. Apakah inspirasi bisa didapat dari
seorang bocah? Tentu saja. Indonesia memiliki Masruri Rahmat sebagai
pecatur cilik andal kelas dunia. Ada juga Chelsea Monica Ignesias Sihite, bocah
kelas VI sekolah dasar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Mereka adalah bocah
yang berhasil mengukir nama Indonesia di tingkat dunia, meski mereka berasal
dari keluarga tak mampu. Juga ada Bryan Jevonica, bocah kelas
dua sekolah dasar di Pontianak, Kalimantan Barat, yang menjuarai lomba desain
perangko tingkat internasional yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB).
Perangko yang didesain Bryan berjudul "Kami Bisa Mengakhiri Kemiskinan"
menggambarkan seorang ibu yang tengah sibuk menjahit bersama
anak-anaknya.Bryan mendapat inspirasi ini karena melihat sang Ibu yang
mampu bertahan dari kesulitan ekonomi berkat usaha menjahitnya. Realitas hidup
ini terekam dalam benak Bryan yang menyelesaikan lukisan perangko itu hanya
dalam waktu sepekan.Kemampuan melukis Bryan memang berbeda dengan anak
seusianya. Hal itulah yang mengantar Bryan ke Markas PBB di New York, Amerika
Serikat, untuk menerima penghargaan. Jika suatu saat Anda ke markas PBB dan
melihat sebuah lukisan terpajang di sana, maka salah satu lukisan itu adalah
hasil tangan mungil anak Indonesia. Tentu saja masih banyak nama yang
ingin kami sajikan dalam tulisan kali ini, banyak di antaranya yang sudah Anda
saksikan dalam program Sosok di Liputan 6 Siang setiap hari Minggu.
Mereka adalah orang-orang biasa yang telah melakukan hal luar biasa. Sengaja
kami tampilkan mereka kembali, sekadar sebagai renungan bahwa kita memiliki
banyak anak bangsa sebagai sumber inspirasi. Dan, kami percaya, banyak di antara
Anda yang juga bisa menjadi sumber inspirasi buat kita semua. Selamat
memasuki Tahun Baru, selamat berkarya. Terima kasih untuk mereka yang telah
menjadi inspirasi untuk kita semua. Semoga Liputan 6 pun bisa menjadi bagian
dari inspirasi Anda. Rosianna SilalahiPemimpin Redaksi
Liputan 6
Published: January 04, 2008
More reviews about the liputan6.com