Balita si peniru ulung
Kesopanan sebaiknya ditanamkan sedini mungkin. Semakin dini semakin baik. Sebaliknya, mengubah perilaku saat anak sudah baligh sulit karena sudah mengkristal dalam diri anak. Sebenarnya, anak-anak (terutama balita) memiliki modal yang sangat besar menjadi anak yang sopan, karena pada hakikatnya mereka adalah peniru ulung.
Balita akan meniru mimik, ucapan dan perilaku orang-orang dewasa yang ada di sekelilingnya. Bukan hanya yang baik-baik, tetapi juga yang buruk. Bagaimana ayah berbicara pada ibu, cara orangtua mendengar dan menjawab pertanyaan anak, bahkan semua adegan yang ada di layar kaca pun akan ditiru oleh balita kita.
Agar lingkungan memiliki dampak positif terhadap perkembangan sopan-santun balita, tentu orangtua perlu mengintrospeksi dirinya terlebih dahulu. Misalnya saja, cara menjawab telepon. Jangan kira balita Anda tak melihat dan merekam adegan orangtuanya yang ogah-ogahan menjawab telepon. Atau, saat Anda marah-marah menjawab telepon. Sebaliknya, ia pun akan merekam adegan yang baik bila Anda selalu santun menjawab telepon. Jangan kaget bila suatu saat balita Anda yang baru belajar bicara, berusaha meniru tingkah laku ayahnya dengan berkata, "Assalaamu'alaikum. Ini dari siapa? Oh, Ibu sedang tidak ada. Ada yang bisa saya bantu?"
Hati-hati pula dengan orang-orang dewasa lain yang ada di rumah dan dekat dengan balita kita, seperti pengasuh. Cara mereka bicara, mimik, dan pandangan matanya akan berpengaruh terhadap anak. Pandangan mata yang tidak bersahabat, mimik yang dingin, suara yang keras dan tinggi tentu sangat berepengaruh pada balita yang baru belajar bicara. "Latihlah pengasuh Anda secara khusus tentang cara berkomunikasi yang baik kepada anak," saran Ery
Bertahap
Mengajarkan kesopanan perlu tahapan. Menurut Ery, ada tiga tahap yang perlu dilalui orangtua dalam mengajarkan kesopanan pada anak. Yaitu, flash (pemberitahuan), splash (pengulangan), dan action (aksi). Ketiga tahapan tersebut dapat berlangsung secara bertahap (satu per satu) atau sekaligus. Misalnya, bila anak usia lima tahun suatu saat diajak Ibu berkunjung ke kantor, ia akan melihat benda-benda asing yang berbeda dari benda yang biasa dilihatnya di rumah. Mungkin saja ia tertarik dengan kursi kantor yang bisa berputar.
Saat pertama anak tertarik memegang-megang dan mencoba untuk mendudukinya tak perlu langsung dilarang, tapi berilah informasi (flash), "Kakak tertarik dengan kursi putar itu ya? Kursi ini tempat Ibu duduk di depan meja komputer. Kakak mau coba?" Pasti ia tertarik untuk mencoba duduk dan berputar di atasnya. Bukan hanya berputar-putar, biasanya anak akan terdorong untuk mendorong-dorong kursi itu ke tembok.
Berikanlah informasi selanjutnya. "Kakak, sudah ya. Sudah coba kan duduk di kursi dorong?" Langkah yang perlu Anda lakukan selanjutnya adalah mengalihkan perhatiannya dari kursi dorong. Inilah yang dimaksud dengan actionnya.
Ery tidak setuju dengan sikap orangtua yang menganggap yang namanya anak-anak memang begitu (tidak sopan). Melalui latihan dan pengulangan-pengulangan yang dilakukan orangtua anak dapat terlatih mengenal sopan-santun. Segalanya, memang berawal dari rumah.