Search
×

Sign up

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Sign In!
×

Sign In

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Sign up!
×

Sign up

Use your Facebook account for quick registration

OR

Sign In

Sign in using your Facebook account

Introvert

Article Summary   by:Firin     Original Author: Hery Mardian
ª
 
Introvert


introvertPERNAH kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau skill basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu menghabiskan waktu sisanya untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah?

Kalau iya, apa menurut anda orang ini “terlalu serius”? Atau perlu ditanya, “kamu baik-baik aja?” Atau mungkin dia memang sengaja menjaga jarak, angkuh, tak sopan atau tidak bisa membawa diri? Bahkan diperlukan usaha dua kali lebih keras lagi untuk membuatnya mau menjelaskan ada apa sebenarnya.

Kalau jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “ya”, maka hampir pasti anda sudah bertemu dengan seorang introvert—dan hampir pasti pula bahwa anda tidak memperlakukan dia sebagaimana seharusnya.

Di tahun-tahun belakangan ini, sains sudah mempelajari banyak hal tentang perilaku maupun kebutuhan para introvert. Bahkan sudah diketahui pula—melalui pemindaian otak—bahwa otak orang-orang introvert mengolah informasi dengan cara yang berbeda dengan orang lain (saya tidak sedang mengada-ada!).

Kalau anda ternyata belum tahu fakta ini, anda memang tidak sendirian. Keberadaan orang-orang introvert mungkin sangat umum, tapi di Amerika, termasuk di dunia, mereka adalah golongan yang paling banyak disalahpahami dan dibuat merasa tertekan .

Saya sungguh-sungguh tahu itu. Nama saya Jonathan, dan saya seorang introvert.

Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya mengingkari ini. Lagipula saya adalah orang yang memiliki kemampuan sosial yang baik. Saya sama sekali bukan orang yang pemurung atau tidak suka orang lain. Umumnya, saya jauh dari pemalu. Saya sangat menyukai obrolan-obrolan panjang tentang pemikiran-pemikiran mendalam, atau tentang hal-hal menarik yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Namun akhirnya saya mengenali hal itu pada diri saya, dan tetap tampil dengan membuka diri sebagai seorang introvert pada teman-teman maupun rekan kerja. Dengan cara ini saya terbebas dari banyak sekali kesalahpahaman atau labelisasi yang menyakitkan.

Kini, saya ingin menjelaskan apa yang harus anda ketahui sehingga anda bisa memberikan respon yang tepat sekaligus mendukung pada keluarga, teman maupun rekan kerja anda yang introvert. Perhatikan: pasti ada dari mereka yang anda kenal, anda hormati, atau yang dengannya anda berinteraksi setiap hari, adalah seorang introvert; sementara bisa jadi anda malah “menyiksanya” bila tak paham rambu-rambunya.

Apa itu introversi?

Dalam tampilan modernnya, konsep ini diperkenalkan tahun 1920-an oleh Carl Jung, psikolog yang terkenal itu. Hari ini introversi adalah salah satu tiang utama dalam banyak tes identifikasi kepribadian, termasuk tes Myers-Briggs Type Indicator yang sangat banyak digunakan itu.

Para introvert tidak mesti pemalu. Orang pemalu merasa cemas, takut, atau mengutuki dirinya sendiri dalam lingkungan sosial; sedangkan para introvert biasanya tidak demikian. Para introvert juga bukan orang yang misantropik atau pembenci umat manusia, walaupun ada beberapa dari kami yang sepakat dengan kata-kata Sartre, “Neraka adalah adanya orang lain ketika sarapan.” Namun akan lebih tepat jika dikatakan bahwa (berinteraksi dengan) orang lain itu melelahkan bagi para introvert.

Para ekstrovert menjadi “hidup” dengan kehadiran orang lain, dan akan layu serta kehilangan kecemerlangan mereka jika sendirian. Ekstrovert kerap tampak seperti bosan dengan dirinya sendiri. Tinggalkan seorang ekstrovert sendirian selama dua menit, maka ia akan segera meraih ponselnya. Sebaliknya, setelah satu atau dua jam bersosialisasi, kami para introvert membutuhkan saat-saat off sejenak untuk mengisi ulang batere kami. Saya sendiri, rumus kebutuhan saya adalah dua jam off untuk setiap satu jam bersosialisasi.

Ini sama sekali bukan anti-sosial. Ini juga bukan tanda depresi, dan tidak membutuhan tindakan medis apa pun. Bagi para introvert, dibiarkan sendiri menyelami pikirannya itu sama menyegarkannya dengan tidur, dan sama bergizinya seperti makan. Motto kami, “Saya senang, kamu senang, sama-sama senang—sedikit tapi sering.”

Berapa banyak orang introvert?

Saya melakukan riset mendalam untuk menjawab pertanyaan ini, di Google. Jawabannya: sekitar 25 persen dari seluruh populasi. Atau kurang dari setengah. Atau, —favorit saya—“Kelompok minoritas di kalangan umum, tapi mayoritas di kalangan manusia berbakat”.

Famous Introverts

Mahatma Gandhi, Albert Einstein, Michael Jordan, J. K. Rowling (Harry Potter), Steven Spielberg, Bunda Theresa, dan Bill Gates adalah introvert.

Published: March 23, 2010   
Please Rate this Summary : 1 2 3 4 5
Comment Translate Send Link Print
X

.